Walipos.com | Indonesia Lautan Dakwah

Minggu, 20 April 2014
Previous Selanjutnya
Din Syamsuddin: Islam Mengajarkan Kita Untuk Optimis Din Syamsuddin: Islam Mengajarkan Kita Untuk Optimis Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Din Syamsuddin meminta Polri dan TNI tetap menjaga...
Koalisi Poros Tengah Ancam 3 Capres Unggulan Koalisi Poros Tengah Ancam 3 Capres Unggulan Sekretaris Fraksi PP, Arwani Thomafi mengatakan pihaknya membuka diri jika memang partai p...
Partai Islam Makin Didukung Publik Kecuali PKS Partai Islam Makin Didukung Publik Kecuali PKS Masyarakat dan umat Islam tak sedikit yang mengeluhkan sikap Partai Keadilan Sejahtera (PK...
Wartawan JITU Liput Langsung Konflik Suriah Wartawan JITU Liput Langsung Konflik Suriah Selain meliput muktamar ulama Suriah di Istanbul, di sana kami berencana bertemu dan mewaw...
Jokowi Sukses Gembosi Suara PDIP Jokowi Sukses Gembosi Suara PDIP Pasca ditetapkannya Jokowi sebagai Calon Presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuang...
PII akan Ajukan Petisi Kepada Mendikbud Terkait Jilbab PII akan Ajukan Petisi Kepada Mendikbud Terkait Jilbab Terkait pelarangan jilbab di beberapa sekolah di Bali yang sudah berlangsung puluhan tahun...

    Gus Aab : Kalau Urusan Tahlil NU Bersatu, tapi Kalau Urusan Politik Terpecah

      Atmosfir politik Jatim lagi panas. Itu sebabnya Ketua Tanfidz Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Jember, KH Abdullah Syamsul Arifin, mengaku  cemas akan  dampak pertarungan kader terbaik NU yang semakin menguat.

      Mengapa Gus Aab  begitu cemas terkait Pilkada Jatim ini? Alasannya, pertarungan tersebut bisa merugikan NU sendiri. Dua kandidat NU bertarung dikhawatirkan yang menang justru orang lain.

      “Sejak dulu, kelemahan NU adalah hanya bersatu bila merasa terancam dan hanya bersatu dalam urusan agama. NU dari Sabang sampai Merauke kalau urusan tahlil bersatu. Tapi kalau urusan politik terpecah," kata Gus Aab ini, Selasa (20/8/2013).

      Inilah yang tengah terjadi dalam pemilihan gubernur Jatim. Kandidat wakil gubernur Saifullah Yusuf dan kandidat gubernur Khofifah Indar Parawansa itu tengah berebut kue pemilih yang sama, yakni massa Nahdliyyin.

      "Munculnya Khofifah Indar Parawansa (sebagai kandidat gubernur) bisa memecah suara. Khawatirnya kuda hitam yang akhirnya menang, dan NU akhirnya sama-sama tidak dapat apa-apa," katanya.

      Sebagai kader NU, Abdullah berharap, ada warga NU yang menduduki pimpinan di Jawa Timur, terlepas gubernur atau wakil gubernur. Dengan demikian, konsolidasi politik lima tahun ke depan akan terjaga, di mana NU bisa menduduki posisi gubernur Jatim pada masa berikutnya. Jika NU gagal mendudukkan kadernya di posisi pemimpin Jawa Timur, maka konsolidasi sulit dilakukan.

        • Dibaca: 364 kali

        TCE-Plugin by www.teglo.info