Walipos.com | Indonesia Lautan Dakwah

Selasa, 29 Juli 2014
Previous Selanjutnya
NU Luncurkan MyHalal NU Luncurkan MyHalal Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama melalui Koperasi Mabadiku Bintang Sembilan meluncurkan My...
MPU Usut Ajaran Sesat, 25 Orang Diperiksa Polisi MPU Usut Ajaran Sesat, 25 Orang Diperiksa Polisi Ketua MPU Aceh, Drs Ghazali Mohammad Syam berharap masyarakat bersabar menunggu keputusan ...
Jokowi Unggul di  24 Provinsi Jokowi Unggul di 24 Provinsi Berdasarkan data di situs KPU serta rekapitulasi suara di 497 kabupaten/kota di 33 provins...
MP3I Minta Prabowo-Jokowi Bahu-Membahu Bangun Bangsa MP3I Minta Prabowo-Jokowi Bahu-Membahu Bangun Bangsa Di tengah Pilpres 2014 yang ditingkahi dengan kompetisi menegangkan selama kurun April-Jul...
Israel Makin Brutal Israel Makin Brutal Untuk mengakhiri konflik kebrutalan penjajah Israel, Sekjen PBB Ban Ki-moo bertolak ke  Ti...
PBNU: Nahdliyin Harus Tenang dan Santun Menghadapi Pengumuman 22 Juli PBNU: Nahdliyin Harus Tenang dan Santun Menghadapi Pengumuman 22 Juli Masyarakat Indonesia harus pandai-pandai menunjukkan rasa syukur atas berkah kedamaian yan...

    Gus Aab : Kalau Urusan Tahlil NU Bersatu, tapi Kalau Urusan Politik Terpecah

      Atmosfir politik Jatim lagi panas. Itu sebabnya Ketua Tanfidz Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Jember, KH Abdullah Syamsul Arifin, mengaku  cemas akan  dampak pertarungan kader terbaik NU yang semakin menguat.

      Mengapa Gus Aab  begitu cemas terkait Pilkada Jatim ini? Alasannya, pertarungan tersebut bisa merugikan NU sendiri. Dua kandidat NU bertarung dikhawatirkan yang menang justru orang lain.

      “Sejak dulu, kelemahan NU adalah hanya bersatu bila merasa terancam dan hanya bersatu dalam urusan agama. NU dari Sabang sampai Merauke kalau urusan tahlil bersatu. Tapi kalau urusan politik terpecah," kata Gus Aab ini, Selasa (20/8/2013).

      Inilah yang tengah terjadi dalam pemilihan gubernur Jatim. Kandidat wakil gubernur Saifullah Yusuf dan kandidat gubernur Khofifah Indar Parawansa itu tengah berebut kue pemilih yang sama, yakni massa Nahdliyyin.

      "Munculnya Khofifah Indar Parawansa (sebagai kandidat gubernur) bisa memecah suara. Khawatirnya kuda hitam yang akhirnya menang, dan NU akhirnya sama-sama tidak dapat apa-apa," katanya.

      Sebagai kader NU, Abdullah berharap, ada warga NU yang menduduki pimpinan di Jawa Timur, terlepas gubernur atau wakil gubernur. Dengan demikian, konsolidasi politik lima tahun ke depan akan terjaga, di mana NU bisa menduduki posisi gubernur Jatim pada masa berikutnya. Jika NU gagal mendudukkan kadernya di posisi pemimpin Jawa Timur, maka konsolidasi sulit dilakukan.

        • Dibaca: 485 kali

        TCE-Plugin by www.teglo.info