Walipos.com | Islam Untuk Semua

Kamis, 21 Agustus 2014
Previous Selanjutnya
 SBY Ingatkan Jokowi Tunggu Waktu yang Tepat SBY Ingatkan Jokowi Tunggu Waktu yang Tepat Langkah Joko Widodo membentuk Tim Transisi mendapat perhatian Presiden SBY. Presiden juga ...
 Dihadapan Para Kiai, Bupati Malang Dukung Lahirnya ISIS Dihadapan Para Kiai, Bupati Malang Dukung Lahirnya ISIS Bupati Malang, Jawa Timur Rendra Kresna menyatakan mendukung gagasan lahirnya ISIS. Bahkan...
AS Galau Kalau Jokowi Ditangguhkan di MK AS Galau Kalau Jokowi Ditangguhkan di MK Sejak  keputusan KPU yang memenangkan Joko Widodo di Pilpres di gugat karena di duga melak...
Opini Jokowi Sudah Presiden Menyesatkan Opini Jokowi Sudah Presiden Menyesatkan Pengamat Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Hidayatullah, Pangi Syarwi Chaniag...
Ayo Dukung Gerakan ISIS !! Ayo Dukung Gerakan ISIS !! Semua umat Islam pasti akan merindukan ISIS, apalagi bagi suami dan anak-anak. Eiits, jan...
MUI Tetapkan Fatwa Haram Bagi Pergerakan ISIS MUI Tetapkan Fatwa Haram Bagi Pergerakan ISIS Majelis Ulama Indonesia  (MUI) menyatakan bahwa gerakan Negara Islam (Islamic State) atau ...

    Gus Aab : Kalau Urusan Tahlil NU Bersatu, tapi Kalau Urusan Politik Terpecah

      Atmosfir politik Jatim lagi panas. Itu sebabnya Ketua Tanfidz Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Jember, KH Abdullah Syamsul Arifin, mengaku  cemas akan  dampak pertarungan kader terbaik NU yang semakin menguat.

      Mengapa Gus Aab  begitu cemas terkait Pilkada Jatim ini? Alasannya, pertarungan tersebut bisa merugikan NU sendiri. Dua kandidat NU bertarung dikhawatirkan yang menang justru orang lain.

      “Sejak dulu, kelemahan NU adalah hanya bersatu bila merasa terancam dan hanya bersatu dalam urusan agama. NU dari Sabang sampai Merauke kalau urusan tahlil bersatu. Tapi kalau urusan politik terpecah," kata Gus Aab ini, Selasa (20/8/2013).

      Inilah yang tengah terjadi dalam pemilihan gubernur Jatim. Kandidat wakil gubernur Saifullah Yusuf dan kandidat gubernur Khofifah Indar Parawansa itu tengah berebut kue pemilih yang sama, yakni massa Nahdliyyin.

      "Munculnya Khofifah Indar Parawansa (sebagai kandidat gubernur) bisa memecah suara. Khawatirnya kuda hitam yang akhirnya menang, dan NU akhirnya sama-sama tidak dapat apa-apa," katanya.

      Sebagai kader NU, Abdullah berharap, ada warga NU yang menduduki pimpinan di Jawa Timur, terlepas gubernur atau wakil gubernur. Dengan demikian, konsolidasi politik lima tahun ke depan akan terjaga, di mana NU bisa menduduki posisi gubernur Jatim pada masa berikutnya. Jika NU gagal mendudukkan kadernya di posisi pemimpin Jawa Timur, maka konsolidasi sulit dilakukan.

        • Dibaca: 520 kali

        TCE-Plugin by www.teglo.info